Apakah
bahaya menjadi anggota geng?
Telah
kita pahami bahwa geng adalah istilah kelompok pertemanan untuk kegiatan yang
kurang baik. Geng dapat bahaya secara langsung dan ada yang tidak langsung.
1.
Bahaya
Langsung
Bahaya
langsung sebuah geng terjadi ketika geng
itu terbentuk dengan tujuan untuk menampung perilaku yang melawan hukum, etika,
atau norma. Karena di luar sana mereka tidak menemukan wadah, maka membentuklah
geng sebagai wadah, misalnya geng perokok, geng pengganggu siswa, geng pemalak,
dan seterusnya.
a. Kamu
ngerasa sok jago. Akibatnya jadi liar, suka ngerusak dan bikin rusuh. Misalnya
saja kebut-kebutan di jalan raya atau tawuran karena membela gengsi dan wibawa
geng-nya. Beberapa kasus tawuran pelajar terjadi karena masalah ini. Kalau kita
tanya apakah ini diajarkan dalam gengnya, tentu saja jawabnya tidak. Hampir
tidak ada geng yang mengajarkan seperti ini secara langsung, tetapi suasanaya yang
kerap membawa anggotanya ke arah sana.
b. Karena
ingin diterima sebagai anggota geng, kamu tergoda ikut dalam kegiatan-kegiatan mereka
meskipun tidak cocok sama hati nurani kamu. Misalnya, seks, minum-minuman keras
atau nge-drugs. Penerimaan anggota geng pun sering kali dilakukan dengan
perpeloncoan. Anggota baru sering di uji
dengan disuruh melakukan kegiatan tercela.
c. Kamu
akan memperoleh reputasi sebagai anak nakal, termasuk membatasi hubunganmu
dengan siswa-siswa lain yang berjuang untuk hidup sehat. Tidak ada orang yang
mau bergaul dengan anak nakal. Semua orang akan menjauhi orang yang nakal.
d. Kamu
menyingkirkan dan meninggalkan teman-teman yang tidak termasuk di dalam gengmu atau
yang menjadi bagian dari geng lain. Menjadi anggota geng membuat kamu akan
kehilangan teman. Waktumu akan kamu habiskan dengan anggota gengmu. Kamu tidak
boleh bergaul dengan geng lainnya. Kamu pun akan meninggalkan teman-teman
sepermainanmu.
e. Kamu
mengira akan mendapatkan kebebasan dengan masuk sebuah geng. Padahal sebenarnya,
kamu menjadi seorang budak dari geng itu, sehingga kamu kehilangan jati diri
dan kebebasan.
Intinya
lebih baik jangan terlibat dalam kelompok geng. Kita hindari saja yang namanya
ngegeng. Carilah kelompok yang bertujuan untuk melakukan kegiatan positif.
2.
Bahaya
Tidak Langsung
Bahaya
yang lain adalah bahaya tidak langsung. Semula kelompok ini tidak memiliki
tujuan apapun. Mereka berkumpul tanpa ada kegiatan yang positif. Adanya
kelompok dengan anggota yang cukup banyak membuat mereka memiliki perilaku
seperti berikut.
a. Siswa
pemalu/penakut menjadi berani
Adanya
kelompok dengan banyak anggota membuat anggota yang pemalu menjadi berani.
Sebagai contoh: Badu adalah anak pemalu. Ia tidak pandai bergaul. Setelah
berkelompok ia menjadi anak pemberani. Bahkan, ia berani mengganggu anak
perempuan. Bahkan,ia berani mengganggu sejenisnya. Keberanian itu muncul karena
ia memiliki kelompok. Di sinilah bahaya itu muncul. Perubahan sifatnya dari
pemalu menjadi berani tidak terkendali. Perubahan sifatnya membawa ia pada
perilaku yang tidak baik.
b. Semula
tidak ada kegiatan jadi memiliki kegiatan
Membentuk
suatu kelompok yang tidak memiliki tujuan akan mengakibatkan bahaya di kemudian
hari. Misalnya, sekelompok anak sepulang sekolah. Mereka tidak memiliki kegiatan.
Kegiatannya hanya nongkrong di pinggir jalan. Mereka bernyanyi-nyanyi dan
bercanda. Namun, karena tidak ada tujuan lama-kelamaan muncul kejenuhan. Dalam
kejenuhan itu, godaan untuk berperilaku negatif mudah muncul. Dalam kekosongan
tujuan, mudah muncul pemikiran negatif. Mulailah
perilaku negatif karena tidak adanya kegiatan. Mereka menganggu orang yang lalu
lalang. Akibatnya dapat meresahkan masyarakat.
c. Berawal
dari iseng menjadi kebiasaan
Tidak
sedikit yang berawal dari iseng melakukan kegiatan negatif, lama-kelamaan
menjadi kebiasaan. Bahkan, yang lebih parah lagi sudah melupakan bahwa itu
adalah perbuatan salah. Misalnya:
Suatu
kelompok geng duduk-duduk di bawah pohon mangga. Mereka asik bernyanyi-nyanyi.
Mereka sering berkumpul di tempat itu. Kemudian, suatu ketika mangga itu
berbuah. Awalnya mereka iseng memetik mangga milik orang lain tersebut.
Lama-kelamaan itu menjadi kebiasaan. Bahkan perbuatan itu merembet ke kegiatan
lain seperti mencuri ayam untuk mereka makan bersama.
Awalnya
hanya kejahatan kecil yang mereka lakukan. Lama-lama karena mencuri sudah
menjadi kebiasaan, kegiatan meningkat hingga melakukan pencurian besar-besaran.
Akhirnya,
kamu pun akan berurusan dengan hukum. Kamu akan mempertanggungjawabkan
perbuatanmu dengan disamasukkan ke dalam kurungan penjara. Hilanglah masa
depanmu. Kamu tidak dapat melanjutkan sekolah. Nama baikmu dan keluargamu
menjadi rusak. Masyarakat enggan bergaul denganmu.
d. Bahaya
yang jauh lebih serius, jika falsafah, nilai dan identitas geng tersebut dijadikan
jalan hidupmu.
Ini
bisa terjadi jika identitas tempelan yang negatif tersebut menjadi pilihan yang
paling nyata dalam proses pencarian identitas. Dampaknya bisa kemana-mana,
seperti yang salah dikatakan benar, yang benar dikatakan salah, kebutuhan untuk
mencari identitas menjadi kebutuhan untuk bertindak agresif, dsb. Hal ini tidak
berhenti sampai di situ. Ketika geng nya bubar, anak/anggota geng akan
kehilangan identitas. Tanpa identitas, maka seluruh kehidupan bagai berjalan di
atas angin. Banyak yang jadi frustrasi karena kehilangan arah, dan makna hidup.
Bayangkan, kalau masih muda dan harusnya bersemangat, tapi sudah kehilangan
semangat hidup.
No comments:
Post a Comment