Awal Mula Munculnya Sosiologi sebagai Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial (Kemasyarakatan)
Hampir kebanyakan makhluk hidup yang terlahir ke dunia ini, telah dibekali kemampuan untuk memelihara dan mempertahankan dirinya sendiri. Berbagai macam pola perilaku yang dibutuhkan untuk mencari makan, tumbuh dan berkembang biak telah mereka miliki sejak lahir sebagai faktor bawaan. Seekor anak ayam tidak perlu menunggu waktu berbulan-bulan untuk dapat berdiri dan mencari makan sendiri. Demikian pula seekor anak kuda, harimau atau pun berbagai jenis binatang reptil lainnya. Kebanyakan anak-anak hewan itu dengan cepat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung pada induknya.
Berbeda halnya yang dialami oleh manusia, sebagai salah satu makhluk hidup manusia tidak memiliki faktor bawaan seperti yang dimiliki oleh hewan-hewan yang dijelaskan di atas. Tanpa perhatian yang baik dari orangtuanya, seorang bayi manusia dapat mengalami kematian. Untuk belajar berdiri dan berjalan dengan kakinya, seorang bayi manusia membutuhkan waktu berbulan-bulan. Jika orangtua dan masyarakat sekelilingnya tidak mempedulikan dan melindunginya, semua bayi manusia dapat mengalami kematian. Semua anak manusia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk belajar dan mematuhi nilai-nilai budaya yang terdapat di masyarakatnya, sebelum akhirnya mampu berbicara, bekerja, mencari makan, dan menyelamatkan dirinya sendiri.
Apakah nenek moyang kita yang hidup di zaman prasejarah telah mengetahui bahwa mereka hidup dalam suatu masyarakat dan saling bergantung satu sama lain? Hal itu tidak kita ketahui secara pasti. Namun, dari bukti-bukti peninggalan yang ditemukan di gua-gua dan dari lukisan pada dinding-dinding batu, kita dapat mengetahui bahwa mereka telah hidup dalam suatu kelompok-kelompok keluarga, berburu binatang, dan menguburkan mayat orang yang telah meninggal dunia. Lebih dari itu kita tidak mengetahui apapun tentang kehidupan sosial mereka. Baru setelah ditemukannya bukti-bukti tertulis mengenai kehidupan sosial masyarakat, kita dapat mengetahui dan menilai hakikat serta kebudayaan yang telah dibangunnya. Telaah yang sistematis mengenai kehidupan masyarakat, baik pada manusia purba maupun modern, baru muncul setelah beberapa generasi kemudian. Para ahli kemasyarakatan mulai mengembangkan sejumlah model untuk mendapatkan pengetahuan mengenai aneka ragam perilaku sosial manusia dalam hubungannya satu dengan yang lain. Kemudian muncullah istilah sosiologi sebagai nama untuk suatu cabang ilmu pengetahuan sosial (kemasyarakatan) setelah August Comte dari Perancis menciptakan istilah tersebut.
Dalam perkembangan selanjutnya istilah itu ditafsirkan menurut sudut pandang yang berbeda-beda. Thomas Ford Hault, misalnya, menyebutkan bahwa sosiologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari dan mengembangkan pengetahuan secara sistematis mengenai hubungan sosial manusia pada umumnya dan pola perilaku yang dihasilkannya sebagai akibat dari hubungan itu. Dengan kata lain, sosiologi berusaha mempelajari masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan cara mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok yang dimaksud disini meliputi pengertian keluarga, suku bangsa, masyarakat suatu negara, berbagai organisasi sosial, politik, ekonomi dan organisasi-organisasi lainnya.
Seorang sosiolog mempelajari perilaku dan hubungan timbal balik antarindividu, kelompok, dan menelusuri asal-usul perkembangannya serta berusaha menganalisis pengaruh kegiatan individu dan kelompok dalam hubungannya satu dengan yang lain. Maka, tidak mengherankan kalau sosiologi seringkali dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang menelaah manusia dari sudut pandang hakikatnya sebagai makhluk sosial.
No comments:
Post a Comment