Wednesday, 12 October 2016

Nilai Sosial

Nilai Sosial
Sementara itu, ada juga hal-hal tertentu yang tidak diwujudkan secara nyata sebagai aturan hidup, tetapi terdapat dorongan dalam diri manusia untuk melakukan atau tidak melakukan hal itu. Atau, ada perasaan-perasaan tertentu kalau orang melakukan atau tidak melakukan hal itu. Semua itu terkesan sangat abstrak tetapi dapat dirasakan manfaatnya; bahkan ada yang dapat dihayati secara mendalam dengan intensitas yang tinggi. Misalnya, tindakan mengambil barang milik orang lain tanpa izin, meskipun pemiliknya tidak tahu, tetap dirasakan sebagai pelanggaran atau kesalahan karena mengambil hak orang lain secara tidak sah. Hal-hal yang demikian itu akan diuraikan dalam pokok bahasan mengenai nilai-nilai sosial berikut ini. Antara nilai dan norma terdapat hubungan yang sangat erat, sehingga sukar dipisahkan atau sulit ditentukan mana yang ada lebih dahulu dalam kehidupan.
a.     Pengertian dan Jenis Nilai Sosial
 Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, baik atau tidak baik, religius atau tidak religius. Hal ini dihubungkan dengan unsur yang ada pada manusia yaitu jasmani, cipta, rasa, karsa, dan kepercayaan/keyakinan. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral), religius (nilai religi), dan sebagainya. Nilai itu ideal, bersifat ide. Karena itu ia abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indra. Yang dapat ditangkap adalah barang atau tingkah laku dan perbuatan yang mengandung nilai itu.
Dengan demikian nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan atau tidak diinginkan yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu. Nilai bukanlah soal benar salah, tetapi soal dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak. Nilai merupakan kumpulan sikap dan perasaan-perasaan yang selalu diperhatikan melalui perilaku oleh manusia. Sikap dan perasaan yang diterima masyarakat merupakan dasar untuk merumuskan apa yang benar dan penting, yang dalam sosiologi dinamakan nilai-nilai sosial.
Penentuan nilai baik atau  benar , harus didasarkan pada ukuran dan pandangan orang banyak. Dengan demikian nilai sosial merupakan anggapan, sikap, dan pandangan yang diberikan oleh masyarakat terhadap segala sesuatu yang dianggap baik dan benar, serta pantas untuk dilakukan 
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa nilai merupakan kebutuhan manusia dalam mengatur pergaulan satu sama lain agar hidup mereka tertib dan tenteram. Pengalaman manusia pada saat mengadakan proses sosialisasi merupakan hasil dari nilai. Suatu pengalaman yang baik akan menghasilkan nilai yang baik (positif). Misalnya, janjj. harus ditepati. Sebaliknya, pengalaman yang buruk akan menghasilkan nilai yang buruk (negatif) pula. Misalnya, mengingkari janji. Akibatnya nilai negatif selalu dihindari.
Dalam masyarakat terdapat tiga jenis nilai sosial, yaitu:
1)   Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berwujud kebendaan yang bermanfaat bagi manusia, misalnya kendaraan, gedung, perabotan rumah tangga, alat-alat tulis, dan sebagainya.
2)   Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang diperlukan manusia agar dapat hidup dan melakukan kegiatan atau aktivitas, misalnya makanan dan minuman, pakaian, dan lain-lain.
3)    Nilai spiritual atau kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai spiritual dapat dibedakan lagi menjadi  empat macam yaitu:
a)   Nilai moral atau nilai kebaikan, adalah nilai yang ber-sumber dari unsur kemauan (etika) dan kehendak (karsa).
b)       Nilai kebenaran, adalah nilai yang bersumber dari unsur akal manusia (akal, budi, dan cipta).
c)       Nilai keindahan, adalah nilai yang bersumber dari rasa manusia (perasaan dan seni).
d)      Nilai agama atau nilai religius, adalah nilai ketuhanan dan kerohanian yang tertinggi dan bersifat mutlak.

Sehubungan dengan itu, nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah nilai-nilai Pancasila. Artinya, seluruh tatanan kehidupan bangsa menggunakan Pancasila sebagai dasar moral dan tolak ukur tentang baik buruknya sikap bangsa Indonesia.
Manusia menjadikan nilai sebagai landasan, alasan atau motivasi dalam segala tingkah dan perbuatannya. Dalam pelaksanaannya nilai-nilai dijabarkan dan diwujudkan dalam bentuk kaidah atau norma sehingga merupakan larangan, hal yang tidak diinginkan, celaan, dan sebagainya.
Segala sesuatu yang memiliki nilai kebenaran, keindahan, kebaikan, dan sebagainya dianjurkan bahkan diperintahkan untuk dilakukan. Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak benar, tidak indah, tidak baik, dan sebagainya dilarang untuk dilakukan.
b.     Fungsi Nilai Sosial
Nilai sosial yang tumbuh di  masyarakat pada umumnya mempunyai beberapa fungsi  penting sebagai berikut :
1)    Sebagai petunjuk (pedoman) yang mengarahkan orang berpikir dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku. Misalnya: seorang pendatang baru yang pindah dari suatu tempat harus mempelajari dan mengikuti nilai-nilai sosial yang terdapat di masyarakat itu, mana yang baik dan mana pula yang tidak baik agar menjadi petunjuk atau pedoman baginya untuk bertindak dan bertingkah laku.
2)    Sebagai pemersatu yang dapat mempersatukan orang atau kelompok karena terdapat kesamaan nilai dalam hidup bermasyarakat. Misalnya: orang-orang berkumpul dan bersatu melakukan gotong-royong secara bersama untuk melakukan sesuatu kegiatan. Gotong-royong adalah salah satu ciri asli budaya Indonesia. Nilai sosial seperti itu masih dapat ditemukan di pedesaan, sedangkan di kota kegiatan seperti ini sudah jarang terjadi. Nilai religius juga mampu mempersatukan banyak orang karena adanya kepentingan bersama untuk memenuhi kebutuhan rohani.
3)    Sebagai benteng perlindungan hidup bermasyarakat. Hal ini akan terasa bila ada ancaman terhadap nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat. Suatu masyarakat yang religius, bila di lingkungannya berkembang tempat maksiat, masyarakatnya akan secara bersama-sama melakukan perlawanan agar lingkungan mereka terbebas dari tempat maksiat.
4)    Sebagai pendorong kehidupan bermasyarakat. Nilai sosial akan menuntun dan mendorong manusia untuk berbuat kebaikan. Seseorang akan berhasil bila ia mampu menempatkan diri sebagai orang yang berbudi luhur dan kreatif sehingga disenangi dan disegani masyarakat sekitarnya. Seseorang akan menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya manakala ia selalu membuat kebaikan dalam masyarakat. Seorang pemimpin akan berhasil bila ia berbudi luhur, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk menuju keberhasilan.

No comments:

Post a Comment