Patokan Status Sosial secara Subjektif
Patokan yang biasa dipakai untuk menentukan tinggi rendahnya status sosial seseorang secara subjektif antara lain adalah sebagai berikut :
1) Kelahiran
Status sosial seseorang dapat tinggi atau rendah karena dia lahir dari suatu keluarga tertentu. Misalnya, seseorang yang lahir dari keluarga raja mempunyai status yang tinggi. Sedangkan seseorang yang lahir dari keluarga Negro mempunyai status yang relatif rendah di Amerika Serikat. Meskipun persamaan hak antara warga kulit putih dan kulit berwarna di Amerika Serikat sekarang ini sudah lebih dihargai.
2) Kualitas atau Mutu Pribadi Seseorang
Seseorang memperoleh penilaian yang baik dari orang lain karena ia memiliki kebijaksanaan, usia lanjut, kuat, pandai, alim atau karena kelakuannya yang baik.
3) Prestasi
Seseorang yang sukses dalam usaha atau kariernya, status sosialnya akan naik. Misalnya, seseorang yang berkedudukan sebagai direktur.
4) Pemilikan
Seseorang memperoleh penilaian dari orang lain karena orang yang menilai tersebut mengharapkan sesuatu dari orang yang dinilainya. Misalnya, si Tono memuji kepandaian Tini dengan maksud agar Tini mau diajak belajar bersama. Tono berharap, ia pun akan menjadi pandai.
5) Otoritas
Seseorang memiliki status sosial yang tinggi karena ia memiliki otoritas yang tinggi. Otoritas adalah kekuasaan yang sah dan karenanya, orang lain harus mengikutinya tanpa perlawanan. Misalnya ketika A menjadi pejabat, dia sangat dihormati banyak orang. Dengan kata lain, status subjektifnya sangat tinggi.
Hubungan antara individu dengan kedudukan atau statusnya dapat diumpamakan hubungan antara seorang pilot dengan pesawat. Semua peralatan sebuah pesawat sangat penting untuk menerbangkan pesawat demi keselamatan penerbangan. Tetapi si pengemudi atau si pilot dapat diganti-ganti dengan yang lain asal orang tersebut memenuhi persyaratan sebagai penerbang
No comments:
Post a Comment