Fungsi Sosialisasi dalam Pembentukan Peran dan Status Sosial
Proses Sosialisasi atau sosialisasi (Pembudayaan) merupakan suatu proses ketika individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa, dan sebagainya).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sosialisasi mulai berlangsung sejak individu masih bayi, yaitu ketika orangtuanya mulai memberikan bimbingan dalam hal berbicara.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang bayi yang baru lahir diibaratkan kertas putih bersih yang belum mempunyai coretan sedikit pun. Baik buruknya bayi itu nantinya tergantung dari orangtuanya atau lingkungannya yang akan menjamah bayi tersebut. Jadi, dimulai dari kelahirannya, sampai nanti menjadi dewasa, sikap, tingkah laku, dan watak bayi itu akan banyak ditentukan oleh lingkungannya. Namun, yang paling penting adalah bahwa dasar pembentukan bayi itu terutama adalah lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga.
Semakin bertambah umur bayi menjadi anak-anak, semakin luas pula hubungannya dengan kebudayaan yang lebih besar. Ia mulai menerima unsur-unsur kebudayaan kelompok atau golongan melalui pergaulan dengan teman-temannya dalam kehidupan sehari-hari. la pun mulai menerima penegasan-penegasan tertentu yang terdapat dalam unsur-unsur kebudayaannya, seperti misalnya apa yang baik dan perlu dikerjakannya dan apa yang harus dijauhinya karena merupakan perbuatan yang dilarang.
Penyesuaian diri dalam pergaulan dengan teman-teman sepermainan, menambah wawasan anak dalam hal berperilaku, perbendaharaan hak, daya pikir dan perkembangan emosinya, sehingga dalam umur 4 atau 5 tahun ia dapat membedakan penggunaan kalimat sewaktu berbicara dengan teman sepermainannya dan sewaktu berbicara dengan orang-tuanya. Dengan kata lain, ia sudah dapat memilih kata-kata yang pantas dipakai buat orangtuanya dan yang pantas dipakai buat teman sepermainannya.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran, status dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.
Sekarang timbul pertanyaan, mengapa anak perlu melakukan sosialisasi? Alasan yang paling utama adalah bahwa dengan norma, nilai, peran dan status yang telah dipelajari dan kemudian dimilikinya, anak akan dapat bergaul dengan baik dalam masyarakatnya. Dengan kata lain, agar anak dapat hidup dengan baik dalam masyarakatnya, nilai dan norma yang hidup dalam masyarakatnya harus ia junjung tinggi. Selain itu sosialisasi juga bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat agar tetap hidup dalam masyarakat dari generasi ke generasi. Hal-hal berikut ini merupakan tujuan-tujuan pokok proses sosialisasi, yaitu:
a. Orang harus diberi keterampilan yang dibutuhkan bagi hidupnya kelak di masyarakat.
b. Orang harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis, dan berbicara.
c. Pengendalian fungsi-fungsi organik, harus dipelajari melalui latihan- latihan mawas diri yang tepat.
d. Setiap individu harus dibiasakan dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada dalam masyarakat.
Untuk mengerti lebih baik tentang sosialisasi sebagai suatu proses yang membentuk peran dan status sosial, maka sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu Sosialisasi primer dan Sosialisasi sekunder.
Sosialisasi primer terjadi pada anak kecil, usia 0 sampai 4 tahun. Melalui sosialisasi itu anak dapat mengenal lingkungan sosialnya seperti mengenal bapak, ibu, kakak, adik, paman, bibi, tetangga, teman sebaya, bahkan ia dapat mengenal dirinya sendiri. Dalam usia itu, anak diberitahu atau diperkenalkan nama yang dipakai untuk menunjukkan status dan peranan dirinya sendiri. Dengan demikian, ketika anak dipanggil dengan namanya, ia diharapkan agar dapat membedakan dirinya dari orang lain.
Sosialisasi sekunder terjadi setelah sosialisasi primer berlangsung. Dengan kata lain, sosialisasi primer merupakan dasar untuk sosialisasi sekunder. Dalam banyak hal, sosialisasi sekunder ini mencerminkan sosialisasi yang pertama. Kalau dalam sosialisasi primer yang berperan adalah orangtua beserta sanak saudaranya, maka pada sosialisasi sekunder yang berperan adalah orang lain. Contoh: Di sekolah seorang anak memperoleh pengetahuan dan kemampuan-kemampuan lain seperti berpikir, hidup bermasyarakat, mengenal negara, Pancasila, UUD 1945, dan lain-lain. Selain di sekolah, sosialisasi sekunder juga berlangsung di tempat kerja. Dalam melakukan pekerjaan seseorang dituntut belajar banyak, di antaranya harus menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di tempat kerjanya.
Pada kenyataannya, baik sosialisasi primer maupun sosialisasi sekunder berlangsung seumur hidup: Sebab kehidupan dari waktu ke waktu ditandai oleh perubahan dan penambahan ilmu pengetahuan sehingga setiap orang harus terus belajar dan belajar.
No comments:
Post a Comment