Thursday, 24 November 2016
Penyimpangan Sosial di Keluarga dan Masyarakat
Dalam suatu keluarga, orang tua selalu akan mengajarkan dan mendidik anak-anak mereka agar kelak dalam kehidupannya mampu bertindak dan berperilaku baik dalam kehidupannya di masyarakat. Mereka harus mentaati norma-norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Orang tua mendidik anak-anaknya dengan norma-norma agama, kesopanan, adat istiadat dan norma-norma lainnya tentu memiliki tujuan tertentu. Tujuan mereka tak lain agar anaknya kelak menjadi manusia yang berguna, manusia yang berbudi luhur, dan mampu bersosialisasi di masyarakat dengan baik, dalam menempuh kehidupannya di kemudian hari. Untuk tujuan itu para orang tua kemudian memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar sampai ke tingkat yang lebih tinggi secara bertahap.
Keluarga sebagai lingkungan pertama proses sosialisasi bagi anak-anak mempunyai keterbatasan-keterbatasan, oleh karena itu dibutuhkan lembaga-lembaga lain untuk melanjutkan pendidikan yang telah didapat dalam lingkungan keluarga.
Begitu mulianya niat dan cita-cita orang tua kepada anak-anak mereka sebagai penerus keturunan. Semua orang tua selalu menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna, berbuat dan bertindak sesuai dengan norma-norma dan nilai sosial yang ada di masyarakat. Namun demikian pada kenyataanya kita masih sering menyaksikan adanya orang-orang ‘yang melanggar norma-norma dan nilai sosial yang berkembang dan dianut oleh masyarakat. Perilaku seperti ini disebut perilaku menyimpang dan merupakan penyimpangan sosial. Penyimpang an sosial yaitu tindakan atau perilaku individu atau kelompok masyarakat yang tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai sosial yang diberlakukan di masyarakat.
Penyimpangan sosial yang terwujud dalam tindakan yang menyimpang, banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. Keadaan lingkungan dapat berupa lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat. Keluarga yang tidak harmonis akan sangat berpengaruh terhadap perilaku anak-anaknya. Sebagai contoh, orang tua yang selalu bertengkar di depan anak-anaknya, dapat menyebabkan anak mereka kehilangan pegangan bahkan dapat mengalami frustasi. Keadaan seperti itu mendorong si anak untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang, seperti bermabuk-mabukan, menggunakan narkoba, dan bentuk-bentuk tindakan negatif lainnya. Untuk itu dituntut kesadaran yang tinggi dari semua anggota keluarga, agar dapat mencegah anggota keluarganya dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang, baik di kelurga maupun di masyarakat.
Tindakan-tindakan peenyimpangan sosial pada suatu keluarga yang sering kita saksikan antara lain, sering melawan orang tua, selalu berkelahi dengan saudara sendiri, pergi dari rumah sesuka hati tanpa sepengetahuan orang tua, melakukan pencurian di rumah sendiri, dan tindakan-tindakan yang bersifat tidak baik yang lainnya.
Dari uraian di atas tampak bahwa faktor keluarga sangat berperan penting dalam proses sosialisasi dalam rumah tangga, khususnya bagi anak yang telah meningkat remaja. Bila seorang remaja cenderung melakukan tindakan-tindakan penyimpangan sosial, hal ini merupakan suatu indikasi atau pertanda bahwa proses sosialisasi dalam rumah tangga tidak berjalan dengan baik. Beberapa faktor yang menyebabkan sosialisasi dalam keluarga tidak berjalan dengan baik antara lain sebagai berikut.
1. Orang tua yang selalu sibuk sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak.
2. Anak selalu dimanja oleh orang tuanya, anak yang berbuat salah selalu dibela dan dianggap benar. Akibatnya, anak akan bertindak sesuka hatinya karena apapun yang diperbuat selalu dianggap benar.
3. Kedua orang tua selalu bertengkar.
4. Perilaku orang tua yang menjadi panutan dalam keluarga tidak mencerminkan contoh yang baik.
5. Perceraian antara ayah dan ibu sehingga anak-anak menjadi bingung dan tertekan.
6. Orang tua yang terlalu keras dan mengekang anak. Anak tidak memiliki kebebasan sama sekali, semua diatur orang tua tanpa sedikitpun diberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapat atau keinginannya
Dalam relaita kehidupan seringkali terjadi, seorang ayah menginginkan agar anak-anaknya hidup hemat sementara si anak selalu diberi uang untuk berfoya-foya. Atau anak di larang merokok sementara ayahnya adalah perokok berat. Orang tua mengajarkan dan menasihati anaknya agar bertindak dan berperilaku selalu menjaga tata krama dan berbuat baik, sementara si anak melihat keluarganya dalam keadaan yang sebaliknya, ayah dan ibu selalu bertengkar di depan mereka.
Di desa-desa yang keadaan lingkungan masyarakatnya masih homogen, terutama pada masyarakat tradisional, tradisi dipelihara dan dipertahankan dengan kuat. Warga desa sama-sama menjaga dan menyesuaikan diri dengan norma-norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat yang telah diikuti secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada masyarakat tradisional seperti ini, penyimpangan sosial sangat jarang terjadi. Orang yang lebih tua menjadi panutan yang lebih muda, tokoh-tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat disegani dan dipatuhi oleh masyarakatnya. Bagaimanakah dengan lingkungan masyarakat di perkotaan? Keadaannya jauh berbeda bahkan bertolak belakang dengan lingkungan masyarakat desa. Masyarakat desa bersifat homogen, sebaliknya masyarakat kota sangat heterogen, terutama di kota-kota besar. Masyarakat kota pada umumnya saling tidak mengenal, bersifat konsumtif dan materialis, masing-masing ingin mencapai tujuannya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Hal ini akan mendorong terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial di masyarakat. Kita sering mendengar dan melihat di telivisi terjadinya pencurian, perampokan, penodongan, perkelahian antar kelompok maupun individu, bahkan pembunuhan. Berbagai tindakan kejahatan yang terjadi di kota, tidak terlepas dari ling kungan masyarakat kota itu sendiri yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat di antara sesama masyarakat.
Penyimpangan sosial selain disebabkan oleh keadaan lingkungan, keadaan sosial masyarakat juga dapat menjadi salah satu faktor pendorongnya. Ada orang-orang yang terpaksa harus mencuri atau merampok karena keadaan ekonomi keluarganya yang sangat miskin, sehingga mereka terpaksa harus melakukan tindakan yang menyimpang walaupun ia sebenarnya telah tahu bahwa perbuatannya itu salah.Sebagai contoh, misalnya seorang bapak terpaksa harus mencuri karena anaknya dalam keadaan sakit parah, sementara ia tidak memiliki uang sama sekali untuk berobat. la ingin menjual barang yang dimiliki akan tetapi tidak ada yang mau membelinya karena barang yang akan dia jual hanya berupa tikar dan piring-pring yang sudah lusuh, dan tidak ada nilainya. Dengan pikiran kalut dan tidak tahu jalan keluarnya serta perasaan yang sangat sedih melihat anaknya terbaring sakit di tempat tidur yang lusuh, akhirmya ia memberanikan diri untuk mencuri. Akan tetapi, malang baginya karena tertangkap oleh polisi. Ia ditahan oleh polisi karena tindakannya dianggap telah melanggar norma hukum. Menurut pendapat kalian , apakah tindakan bapak itu dapat dibenarkan? Coba diskusikan dengan teman teman sekelas kalian mengenai contoh kasus ini.
Tindakan-tindakan penyimpangan sosial ternyata tidak hanya terjadi di masyarakat yang keadaan sosialnya dililit kemiskinan. Tetapi dapat pula terjadi pada masyarakat yang kondisi sosialnya sangat baik dan berkecukupan ditinjau dari segi ekonomi. Adakalanya kita melihat anak-anak orang dari keluarga terhormat maupun orang-orang kaya terlibatdalam peredaran obat-obat terlarang dan men jadi pecandu narkotik sehingga harus berurusan dengan polisi
Keadaan sosial yang cukup baik , justru di salahgunakan oleh mereka untuk hal-hal yang tidak baik. Hal ini mungkin terjadi karena pengaruh lingkungan, kurang perhatian orang tua, pemahaman agama yang kurang, atau faktor-faktor lainnya. Tindakan-tindakan sosial yang menyimpang dapat terjadi di semua tingkatan sosial. Remaja merupakan kelompok yang pa ling mudah terpengaruh dengan tindakan atau perbuatan yang mengarah kepada penyimpangan sosial. Untuk dapat melakukan proses sosialisasi dengan baik di masyarakat, setiap orang perlu. membekali diri dengan nilai-nilai agama, akhlak, atau budi pekerti. Pendidikan dalam keluarga, pendidikan agama dan akhlak perlu lebih ditingkatkan agar menghasilkan manusia-manusia santun dan berbudi luhur.
Di samping itu, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. hendaknya dapat menjadi panutan bagi setiap individu, terutama “ bagi anak-anak dan generasi muda. Kita harus mampu membedakan dan memilih mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang menyimpang untuk menjadi pedoman bagi kehidupan di masa depan kelak. Hindarilah lingkungan yang penghuninya berperilaku meyimpang, misalnya bila di lingkungan kita terdapat kelompok penjudi, ; hindarkan diri dari kelompok itu agar tidak terpengaruh dari perbuatan-perbuatan seperti itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment