Thursday, 24 November 2016
Perkelahian Antar Pelajar Sebagai Bentuk Penyimpangan Sosial
Salah satu perilaku yang menyimpang adalah perkelahian antar pelajar. Perkelahian antar pelajar lebih dikenal dengan istilah “tawuran” yang berasal dari bahasa Jawa, khususnya Jawa Timur seperti perkelahian massal atau perkelahian antar kelompok. Tawuran harus dibedakan dari perkelahian biasa karena kompleksitasnya berbeda, penyebabnya berbeda, dan akibat yang ditimbulkannya pun berbeda. Perkelahian satu lawan satu normal terjadi sebagai salah satu cara memecahkan masalah antar pribadi. Sasaran dari perkelahian seperti itu jelas lawan berkelahinya, bukan orang lain dan bukan benda-benda di sekitarnya. Kedua belah pihak yang berkelahi sadar betul bahwa mereka tidak dipengaruhi massa. Perkelahian satu lawan satu bahkan sering dipandang oleh banyak kebudayaan sebagai lambang kejantanan, kekesatriaan dan keberanian dalam mempertahankan hak dan harga diri. Para remaja masa kini pun ternyata masih menilai tinggi keberanian dan kejantanan seperti itu. Karena sifatnya yang pribadi, maka perkelahian seperti ini bukanlah merupakan indikator dan masalah sosial.
Berbeda dengan perkelahian biasa, tawuran adalah suatu fenomena yang tergolong “patologis” dan memiliki kompleksitas yang jauh lebih tinggi.
Tawuran mengandung sifat-sifat sebagai berikut:
1) Terjadinya tawuran merupakan hasil dari adanya solidaritas yang tinggi dari suatu kelompok, namun sekaligus mengandung suatu gejala konflik sosial yang laten dan agresivitas negatif pada pribadi individu yang bersangkutan.
2) Sasaran tawuran tidak bergitu jelas bagi si pelaku itu sendiri. Karena itu sasaran serangan dari tawuran biasanya membabibuta dan akhirnya merugikan kelompok-kelompok lain.
3) Kebrutalan peserta tawuran seringkali ditandai dengan hilangnya kesadaran mereka. Hilangnya kesadaran para pelaku bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti minuman keras, aktivitas massa, histeris, dan pengaruh zat kimia lainnya.
4) Tawuran dapat mengembangkan sifat keberanian yang semu pada din remaja, karena mereka bersembunyi dalam kelompok dan dalam suasana yang kacau.
5) Tawuran merusak sportivitas, karena dalam kemelut itu tidak ada aturan.
Jadi perkelahian pelajar merupakan suatu gejala yang diakibatkan oleh masalah sosial lain yang kompleks dan sekaligus menghasilkan secara langsung masalah sosial yang lainnya lagi, seperti kekacauan, kerusakan, kematian, dan sebagainya. Oleh sebab itu, sebagai suatu masalah sosial, tawuran atau perkelahian pelajar harus dicegah. Namun sebagai indikator dari masalah sosial lain yang lebih luas dan kompleks, gejala ini perlu ditelaah secara teliti dan kritis rangkaian jalan keluarnya dan cara-cara pemecahannya secara tepat.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment