Thursday, 24 November 2016

Proses Sosial Asosiatif (Jenis-Jenis Proses Sosial)


Proses sosial asosiatif yaitu proses sosial yang mengarah pada persatuan dan kesatuan pada sebuah komunitas seperti kerjasama, akomodasi, asimilasi, akulturasi.
a.    Kerjasama
Kerja sama merupakan bagian dari interaksi sosial, karena  interaksi sosial dilakukan oleh satu atau beberapa orang (kelompok) yang biasanya menghasilkan sebuah kerjasama.

Kerjasama akan selalu terdapat dan dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat karena dengan kerjasama sebuah pekerjaan  akan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Berdasarkan kegiatannya kerjasama dapat dibedakan menjadi:


1)    Kerja sama Spontan
    Yaitu kerjasama yang timbul/terjadi secara spontan atau mendadak seperti kerjasama untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran.
2)    Kerja Sama langsung
    Yaitu kerja sama yang timbul/terjadi karena adanya sebuah perintah dari yang memerintah seperti kerjasama untuk membuat sebuah rumah.
3)    Kerja sama Kontrak
    Yaitu kerja sama yang timbul/terjadi disebabkan oleh ketentuan-ketentuan tertentu yang sifatnya dilakukan untuk jangka waktu tertentu seperti kerjasama antara pemilik perusahaan dengan pegawai yang bekerja kontrak.
4)    Kerja sama Tradisional
    Yaitu kerja sama yang timbul / terbentuk karena adanya sebuah tradisi dalam masyarakat seperti kerja sama untuk mengadakan pesta jika musim panen tiba.

Tradisi kerja sama yang umum dikenal pada masyarakat pedesaan di Indonesia adalah pola gotong royong dengan berbagai variasi yang khas, antara lain:
1)    pada masyarakat Sunda dikenal Sambat Sinambat ketika akan mengerjakan sawah, membangun rumah, menyelenggarakan perhelatan seperti pesta perkawinan, dan lain-lain;
2)    pada masyarakat Jawa dikenal bentuk gotong royong yang dinamakan Gugur Gunung ketika akan mengerjakan sawah memperbaiki bendungan, dan lain sebagainya;
3)    pada masyarakat Bali dikenal organisasi Subak yang mengatur sistem pengairan sawah; dan
4)    pada masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara dikenal organisasi pertanian Mapalus seperti Subak di Bali.

Pada masyarakat  kota yang sudah begitu kompleks struktur kemasyarakatannya, pola kerja sama seperti gotong royong sudah memiliki modifikasi khas kota, dengan motif:
1)    untuk memperoleh keuntungan ekonomis secara efektif dan efesien;
2)    untuk menghindarkan persaingan bebas dibentuklah semacam asosiasi atau perserikatan, baik di bidang ekonomi, politik, kesenian, keolahragaan, dan lain-lain;
3)    untuk menggalang kesatuan dan persatuan bangsa di bidang bela negara, cinta tanah air, dan lain-lain.

Menurut James D. Thompson dan William J. Mc Ewen, ada lima bentuk kerja sama bila ditinjau dari pelaksanaannya yaitu sebagai berikut.
1)    Kerukunan yang meliputi gotong royong dan tolong menolong.
2)    Bargaining, yaitu kerja sama yang dilaksanakan atas dasar perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
3)    Kooptasi (cooptation), yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, untuk menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
4)    Koalisi (coalition), yaitu kerja sama yang dilaksanakan oleh dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu, karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang berbeda antara satu dengan yang lain, namun karena maksud utama adalah untuk mencapai tujuan bersama, maka sifatnya menjadi kerja sama.
5)    Join-venture (usaha patungan) yaitu: kerja sama yang dilaksanakan karena adanya pengusahaan proyek-proyek tertentu.

b.    Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi mempunyai dua aspek pengertian berikut ini.
1)    Upaya untuk mencapai penyelesaian dari suatu konflik atau pertikaian. Jadi, mengarah kepada prosesnya.
2)    Keadaan atau kondisi selesainya suatu konflik atau pertikaain tersebut. Jadi, mengarah kepada suatu kondisi berakhirnya pertikaian.

Akomodasi didahului oleh adanya dua kelompok atau lebih yang saling bertikai. Masing-masing kelompok dengan kemauannya sendiri berusaha untuk berakomodasi menghilangkan gap atau barier yang menjadi pangkal pertentangan, sehingga konflinya mereda. Sebagai hasil akhir dari kondisi akomodasi ini, idealnya akan terjadi asimilasi diantara kelompok-kelompok yang bertikai tadi. Hal semacam ini sering terjadi di antara partai politik yang berkoalisi atau negara yang berserikat.

Akomodasi bertujuan untuk:
1.    mengurangi perbedaan paham, pertentangan politik, atau permusuhan antarsuku atau antar negara;
2.    mencegah terjadinya ledakan konflik yang mengarah pada benturan pola pikir atau benturan fisik;
3.    mengupayakan terjadinya akomodasi diantara masyarakat yang dipisahkan oleh sistem kelas atau kasta; dan
4.    mengupayakan terjadinya proses pembauran atau asimilasi di antara kelompok kesukuan atau ras.

c.    Asimilasi (Assimilation)
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya proses asimilasi antara lain sebagai berikut.
1.    Adanya toleransi dan keterbukaan untuk saling menghargai dan menerima unsur-unsur kebudayaan lain.
2.    Adanya sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
3.    Adanya kesamaan harkat dan tingkat unsur kebudayaannya.
4.    Adanya upaya untuk saling menerima dan saling memberi dari unsur kebudayaan atas kerja sama yang saling menguntungkan.

Adanya pembauran melalui kawin campuran antara anggota kelompok masyarakat yang berbeda. Faktor-faktor yang menghalangi atau mempersulit terjadinya proses asimilasi antara lain sebagai berikut.
1.    Adanya kelompok masyarakat yang terisolir dari pergaulan masyarakat umum, misalnya kelompok minoritas.
2.    Adanya diskriminasi dan politik pembatasan fasilitas kehidupan masyarakat dari kelompok penguasa kepada kelompok yang dikuasai, atau dari kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas.
3.    Adanya kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain.
4.    Kurangnya pemahaman dan pengetahuan terhadap kebenaran kebudayaan lain.
5.    Adanya perasaan primordial, yakni perasaan bahwa kebudayaan sendiri lebih tinggi dan merendahkan kebudayaan lain.
6.    Adanya perbedaan yang sangat mencolok, seperti perbedaan ciri-ciri ras, perbedaan teknologi di bidang perekonomian, dan lain-lain.

Bagi masyarakat  Indonesia yang majemuk, proses asimilasi ditujukan untuk pembauran antara suku bangsa yang berlainan etnis dan antara warga negara keturunan asing atau nonpri dan pribumi.
Walaupun tantangan dan kendalanya cukup berat, namun dalam rangka membetuk kesatuan dan persatuan bangsa yang dilandasi budaya nasional, upaya yang simpatik ini perlu didukung bersama.

d.    Akulturasi (Acculturation)
Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan umat manusia sering terjadi di antara masyarakat yang bertetangga. Hubungan kehidupan masyarakat mereka sedemikian akrabnya, sehingga mereka sering mengadakan hubungan dagang, hubungan politik, bahkan sering terjadi hubungan darahmelalui tali perkawinan. Pada saat seperti itu unsur kebudayaan mereka saling berdifusi dan saling menyerap. Sering pula proses akulturasi terjadi akibat adanya migrasi massal dari sekelompok masyarakat manusia yang mendatangi suatu wilayah, yang dihuni oleh sekelompok masyarakat dengan kebudayaan tertentu. Contoh: proses akulturasi yang sangat ideal adalah masuk dan diserapnya unsur-unsur kebudayaan Hindu dan Islam di pulau Jawa. Unsur-unsur kepribadian kebudayaan tersebut dalam masyarakat Jawa masih tetap sehingga disebut kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam-Jawa.
 Berlainan dengan proses akulturasi seperti telah dipaparkan di atas, pada zaman sejarah penjajahan atau kolonialisme, kita mengenal bentuk penetrasi kebudayaan secara paksa. Masuknya unsur-unsur kebudayaan kaum penjajah merusak kebudayaan bangsa yang dijajah melalui apa yang disebut penetration violence. Unsur dan kepribadian kebudayaan yang dijajah nyaris punah dan lahirlah kebudayaan baru yang didominasi oleh unsur dan kepribadian kaum penjajah. Bentuk kebudayaan baru tersebut sering disebut mestizo-culture. Contohnya kebudayaan bangsa sekitar kepulauan Micronesia dan Polinesia di pasifik, dan kebudayaan di Amerika latin dan Amerika tengah.
Dalam proses akulturasi akan timbul beberapa permasalahan sebagaimana lazimnya terjadi proses perubahan sosial budaya. Yaitu:
1.    masalah unsur-unsur kebudayaan tertentu yang mudah diterima dan sukar diterima,
2.    masalah individu atau kelompok individu tertentu yang cepat mnerima dan lambat atau sukar menerima unsur-unsur kebudayaan asing,
3.    masalah ketegangan dan konflik sosial yang timbul akibat adanya proses akulturasi.

Unsur kebudayaan yang mudah diterima, antara lain:
1.    unsur kebudayaan material atau kebendaan;
2.    unsur teknologi ekonomi yang manfaat cepat dirasakan dan mudah dioperasikan, misalnya alat pertanian;
3.    unsur kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya unsur-unsur kesenian dan hiburan; dan
4.    unsur kebudayaan yang dampaknya tidak begitu mendalam, misalnya     unsur mode.

Unsur kebudayaan yang sukar diterima antara lain:
1.    unsur kebudayaan yang keberadaannya maendasari pola pikir masyarakat, seperti unsur religi dan keagamaan, falsafah hidup; dan
2.    unsur kebudayaan berdasarkan proses sosialisasi yang sangat meluas dalam kehidupan masyarakat, misalnya sistem kekerabatan, mata pencaharian pokok, makanan pokok, dan kebiasaan makan.

Individu yang mudah menerima unsur kebudayaan asing antara lain:
1.    generasi atau kaum muda yang pada dasarnya masih belum memiliki identitas dan kepribadian yang mantap;
2.    kelompok masyarakat yang belum memiliki posisi penting dalam masyarakatnya; dan
3.    kelompok masyrakat yang hidupnya terisolir dan tertekan, misalnya kaum minoritas dan penganggur.

Individu yang sukar menerima unsur-unsur kebudayaan asing antara lain:
1.    kaum tua yang hidupnya kolot tradisional,
2.    kelompok masyarakat yang hidupnya sudah mantap dan memiliki posisi pentingdalam masyarakat, dan
3.    kelompok masyarakat yang hidupnya frustasi dan memisahkan atau mengisolasi diri secara eksterm, misalnya sekte-sekte kepercayaan yang ortodoks dan eksterm (semacam aliran “sesat”), dan kelompok “mekanisme” atau “Gerakan Ratu Adil”.

No comments:

Post a Comment